KEBIASAAN MENGGUNAKAN SOSIAL MEDIA YANG DAPAT MEMICU DEPRESI
26 July 2018
Hidup Seimbangku
Share

KEBIASAAN MENGGUNAKAN SOSIAL MEDIA YANG DAPAT MEMICU DEPRESI

            Saat ini, hampir semua orang memiliki akun sosial media, seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path, Snapchat dan beragam sosial media lainnya. Kebanyakan orang menganggap, dengan memiliki sosial media akan membuatnya terlihat lebih aktif dan lebih mudah dikenal orang banyak.

            Namun, tahukah Anda? Secara tidak sadar, penggunaan sosial media memiliki kaitan dengan kemungkinan seseorang mengalami depresi yang lebih tinggi, dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki atau tidak aktif dengan sosial media.

            Salah satu temuan dari studi baru yang dipresentasikan pada 25 Mei di sebuah pertemuan tahunan Asosiasi Ilmu Psikologi di San Francisco, mengidentifikasi lima perilaku pelaku sosial media terkait dengan kondisi kesehatan mental.

            Dalam studi tersebut, para peneliti menganalisis informasi dari sekitar 500 mahasiswa sarjana yang aktif menggunakan Facebook, Twitter, Instagram dan/atau Snapchat. Para mahasiswa tersebut diinstruksikan menyelesaikan survei online untuk memeriksa perilaku seseorang terhadap sosial media tertentu, serta gejala gangguan depresi utama yang ditimbulkan olehnya.

            Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa alasan orang menggunakan sosial media, yakni karena mereka merasa bosan, untuk hiburan atau sekedar mencari berita. Namun, hal ini tidak ada kaitannya dengan tingkat depresi seseorang. Lain halnya dengan seseorang yang menggunakan sosial media dengan alasan:

  • Membandingkan diri dengan orang lain.
  • Mengejar nilai tinggi pada survei online yang biasa terdapat dalam sosial media, sehingga dapat mengganggu pekerjaan dan kegiatan belajar.
  • Merasa terganggu jika mendapatkan tag pada foto yang menurutnya tidak menarik.

 

            Hal-hal tersebut bisa menjadi ciri seorang pengguna sosial media yang mengalami depresi. Beda halnya dengan pengguna sosial media yang mengalami depresi lebih ringan, yang memiliki ciri, seperti cenderung lebih senang mem­posting foto diri sendiri, dibandingkan dengan memposting foto bersama-sama dengan orang lain, karena orang depresi memiliki kecenderungan untuk mengisolasi diri.

            Pada tahun 2017, sebuah studi menemukan bahwa orang yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan menggunakan sosial media dikaitkan dengan perasaan terisolasi secara sosial. Karena penelitian ini masih awal, diperlukan lebih banyak penelitian untuk mengkonfirmasi hasil yang beragam dari berbagai kelompok, termasuk pada golongan usia menengah dan dewasa. Krista Howard, seorang profesor psikologi di Texas State University yang ikut serta dalam penelitian ini mengatakan, bahwa para peneliti sudah merencanakan studi lain akan dilakukan pada orang di luar kampus.

            Para peneliti juga menekankan bahwa temuan mereka tidak berarti bahwa penggunaan sosial media adalah hal yang buruk. Tergantung cara penggunaan dan cara pandang Anda terhadap sosial media tersebut.

 

Baca juga: DEPRESI SAAT ULANG TAHUN? WASPADA SINDROM BIRTHDAY BLUES! 

KATAKAN SELAMAT TINGGAL PADA STRESS DENGAN SARAPAN DI JAM INI